China’s AI Strategy: Building a Different Future Than the West

by Priya Shah – Business Editor

Raksasa kecerdasan buatan (AI) Amerika Serikat menuduh tiga perusahaan AI asal China terlibat dalam kampanye terkoordinasi untuk mengekstrak informasi dari model AI mereka, Claude, yang dikembangkan oleh Anthropic. Tuduhan ini muncul pada hari Rabu, 25 Februari 2026, setelah OpenAI sebelumnya mengajukan keluhan serupa.

Menurut pernyataan Anthropic, DeepSeek, Moonshot AI, dan MiniMax secara sistematis membanjiri Claude dengan sejumlah besar permintaan (prompt) yang dirancang khusus untuk melatih model AI mereka sendiri. Teknik ini, yang dikenal sebagai distilasi, memungkinkan model AI yang lebih kecil untuk meniru kinerja model yang lebih besar dan terlatih dengan mengekstrak pengetahuan dari model yang lebih canggih.

Meskipun layanan Anthropic secara resmi tidak tersedia secara komersial di China, ketiga perusahaan tersebut diduga menggunakan layanan proxy komersial untuk melewati pembatasan tersebut. Hal ini memungkinkan mereka mengakses jaringan yang menjalankan puluhan ribu akun Claude secara bersamaan. “Begitu akses diamankan, laboratorium-laboratorium tersebut menghasilkan volume besar prompt yang dirancang dengan cermat untuk mengekstraksi kemampuan spesifik dari model kami,” kata Anthropic dalam pernyataannya, seperti dikutip dari CNBC.

Respons Claude terhadap permintaan ini kemudian dikumpulkan secara massal, baik untuk pelatihan langsung maupun untuk menjalankan proses pembelajaran penguatan. Pembelajaran penguatan adalah proses intensif data di mana model AI belajar membuat keputusan melalui coba-coba tanpa panduan manusia.

Anthropic memperkirakan bahwa ketiga perusahaan China tersebut secara kolektif telah menghasilkan lebih dari 16 juta pertukaran pesan dengan Claude. Tuduhan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China dalam perlombaan pengembangan AI, yang juga mencakup persaingan dalam produksi chip semikonduktor.

Perkembangan ini terjadi seiring dengan pendekatan China yang berbeda dalam pengembangan AI dibandingkan dengan Amerika Serikat. Alih-alih berfokus pada penciptaan kecerdasan umum (Artificial General Intelligence/AGI) yang menyaingi atau melampaui kognisi manusia, seperti yang menjadi ambisi utama di Silicon Valley, China lebih menekankan pada integrasi AI ke dalam infrastruktur nasional. Beijing berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan pusat data super besar, jaringan internet super cepat, dan peningkatan jaringan listrik, dengan tujuan untuk menanamkan AI ke dalam berbagai sektor seperti logistik, rumah sakit, perbankan, dan tata kota.

Filosofi di balik pendekatan China ini berakar pada tradisi budaya kuno, khususnya Konfusianisme dan Legalisme. Konfusianisme menekankan harmoni sosial dan peran masing-masing individu dalam masyarakat, sementara Legalisme menekankan pentingnya aturan yang ketat dan penegakan hukum untuk menjaga ketertiban. Dalam konteks AI, ini berarti bahwa China memandang AI sebagai alat untuk meredam kekacauan dan menjaga tatanan sosial, bukan sebagai sarana untuk membebaskan ekspresi individu.

Langkah DeepSeek memilih Huawei sebagai pemasok chip, alih-alih Nvidia atau AMD, juga menunjukkan upaya China untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing dalam pengembangan AI.

You may also like

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.